Laman

Bahasa Arab 5 : Pembahasan mengenai Jumlah

Posted on | By Ryper | In

Jumlah dalam bahasa arab berarti "kalimat" di dalam bahasa Indonesia, yakni kalimat yang mempunyai faidah sempurna.

Contoh :

آمَنْتُ بِاللهِ                      (aamantu billah) = Aku beriman kepada Allah

أَعْطَي مُحَمَّداً لَبَننًا       (u"thi muhammadan labanan)  = Aku memberi Muhammad susu

Sehingga dari kalimat di atas, yang mempunyai predikat dan objek disebut juga dengan jumlah mufidah (جملة مفيدة)atau kalimat sempurna.

Jumlah mufidah atau kalimat sempurna di dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah

1.    Jumlah ismiyyah adalah jumlah yang awal katanya berupa isim.

Contoh :

مُحَمَّدٌ نَبِيٌٌّ                 (muhammadun nabiyyun) = Muhammad adalah seorang nabi

اَلأُسْتَاذُُ مَرِيْضٌ     (al-ustaadzu mariidhun) = ustadz itu sakit



2.    Jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang awal katanya adalah fi’il

Contoh :

جَاءَ مُحَمَّدٌ                (jaa a muhammadun) = Muhammad telah datang

رَجَعَ الأُسْتَاذُُ           (roja’al ustaadzu) = ustadz telah kembali

Ada jumlah yang sempurna, mengindikasikan adanya jumlah yang tidak sempurna , yang biasa disebut dengan sibhul jumlah (شبه الجملة).

Sibhul jumlah merupakan susunan kata yang menyerupai jumlah atau bisa disebut juga kalimat tak sempurna. Sibhul jumlah terdiri dari dua macam, yaitu jer wa majrur dan dzorof wa mudhof ilaih

1.    جَارٌ وَ مَجْرُوْرٌ        (jaarun wa majruurun)

Adalah susunan kata yang terdiri dari huruf jer dan isim

Contoh :

عَلَى السَّمَاءِ          (‘alassamaai) = di atas langit

 مِنَ اللهِ                   (minallahi) = dari Allah

  فِي السُّوْقِ            (fissuuqi) = di dalam pasar

2.    ظَرْفٌ وَ مُضَافٌ إِلَيْهِ (dzorof wa mudhoofun ilaihi)

Adalah susunan kata yang terdiri dari kata keterangan berupa waktu atau tempat dan isim

Contoh :

أمَامَ المَنْزِلِ          (amaamal manzili) = di depan rumah

فَوْقَ البَيْتِ            (fauqol baiti) = di atas rumah

وَرَاءَ المَسْجِدِ       (warooal masjidi) = di belakang masjid

Pemahaman terhadap jumlah, memberi bekal kepada kita di dalam mengetahui makna suatu ayat atau hadist.  Karena perlu diketahui, perubahan kata, harokat, letak dan posisi kata dalam jumlah sangat mempengaruhi dalam pengartian dan pemaknaan suatu ayat. Salah dalam penempatan kata, salah pula maksud yang diinginkannya.

Sebagai contoh adalah apa yang ada di dalam al-qur’an surat al-a’rof : 180

وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى            (walillahil asmaa’ul husna)

Jika kita artikan secara per kata, maka artinya adalah “dan kepunyaan Allah nama-nama yang indah”.
Akan tetapi, jika kita memahami ayat di atas dengan kaidah-kaidah bahasa arab yang benar, kita dapat mengetahui bahwa ada yang kurang di dalam pengartian tersebut, dimana pengartian yang benar adalah “dan hanya kepunyaan Allah lah nama-nama yang indah”.
Perbedaannya ada pada kata “hanya”. Namun ini sangat fatal, jika dikatakan sesuai dengan pengartian yang pertama, bisa mengindikasikan adanya makhluk lain yang nama-namanya indah seperti nama Allah ta’ala, yang berarti mensejajarkan Allah dengan makhluknya di dalam nama yang indah.

Padahal maksud ayat ini tidak demikian, dimana hanya Allah lah yang mempunyai nama-nama yang indah, dan tidak ada yang menandingi bahkan sejajar dengan Allah walaupun dalam hal nama.
Sehingga dari hal ini, kita bisa mengambil pelajaran, jangan sekali-kali menggunakan nama yang khusus untuk Allah sebagai nama untuk anak-anak kita bahkan untuk hewan-hewan peliharaan kita, karena hal tersebut bisa termasuk penghinaan terhadap Allah ta’ala.
............

Contoh yang lain adalah kisah yang diutarakan oleh bapak ilmu nahwu pertama, Abul Aswad Adduali, dimana ketika ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya di malam hari, sang anak terlihat menghadapkan wajahnya kelangit seraya berkata :

مَا اَحْسَنُ السَّمَاءِِ      (maa ahsanus samaa’I ??) = apa yang bagus dilangit ??

Maka sang ayah pun menjawab:

نجومها                       (nujuumuha) = bintang-bintangnya

Mendengar jawaban itu, sang anak menyanggah dengan mengatakan “aku tidak bermaksud bertanya, melainkan menunjukkan kekaguman”.

Lalu sang ayah berkata “klo begitu ucapkanlah

مَا اَحْسَنَ السَّمَاءَ       (maa ahsanas samaa’i) = betapa indahnya langit-langit

Dari kedua contoh ini, sangat jelaslah manfaat kita mengetahui berbagai kaidah di dalam bahasa arab salah satunya dalam pembahasan jumlah. Adapun untuk pembahasan mengenai alasan pengartian dan pembacaan dari kedua contoh di atas, insyaAllah pada pembelajaran selanjutnya.

Soal latihan, tentukan jenis jumlah mufidah dari kalimat berikut

1.    كُلُّهُمْ فِيْ النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً.

        (kullukum finnaari illa millatan waa hidatan)

       "semuanya masuk neraka kecuali satu golongan (yakni, alhussunnah wal jama'ah)"

2.    لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ.
        (laa tazaalu thooifatun min ummati dzoohiriina 'alal haqqi)

        "akan senantiasa ada dari umatku yang selalu menampakkan kebenaran"

3.    تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَ الرُّوْحُ فِيْهَا.
         (ta'rujul malaaikatu warruuhu fiihaa)

         "malaikat dan ruh naik kepadanya"

4.    يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ.
         (yursalu alaikuma syuwaadzun minnaari)

        "keduanya ditimpa panas dari neraka"

5.    وَأَوْصَانِيْ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَوةِ مَادُمْـتُ حَيًّا.
         (wa awshhoonio bissholaati wazzakaati maa dumtu hayyan)

6.    لَا يَزْنِيْ الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ.
         (laa yaznizzaani hiina yazni wa huwa muminum)

7.    اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ.
         (assalamu'alaikum ahladdiyaar minal muminiina)

8.     هَذَا الْيَوْمُ يَوْمُ الْأَحَدِ
         (haadzal yaumu yaumul ahadi)

Referensi tambahan :
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-8-jumlah-mufidah.html
http://badar.muslim.or.id/dasar/bahasa-arab-dasar-9-syibhul-jumlah.html
http://badar.muslim.or.id/artikel/sejarah-asal-mula-ilmu-nahwu.html

Comments (0)

Poskan Komentar