Laman

Ushul Tafsir 6 : Mufrod Mudhof dan Jamak Mudhof Menunjukkan Keumuman

Posted on | By Ryper | In

Diantara keindahan bahasa arab yang perlu kita ketahui adalah ternyata bahasa arab merupakan bahasa yang ringkas namun syarat dengan makna. Walaupun menggunakan satu atau dua kata (kalimah) saja, makna yang terkandung sangat dalam dan sangat luas, contohnya sangat banyak diantaranya apa yang sudah ana tuliskan dalam kaidah sebelumnya, begitu juga kaidah dalam artikel ini.

Syaikh As-sa’di menyebutkan dalam bukunya, “susunan mufrod mudhof dan jamak mudhof mempunyai kandungan di dalamnya dengan makna yang umum”.

Mendengar isim jamak, tentunya kita merasa yakin kalau maknanya adalah umum karena jamak memiliki arti banyak, tak tentu atau umum. Namun, bagaimana bisa susunan mufrod mudhof juga mengandung makna umum ?


Untuk memahaminya, kita perhatikan contoh berikut :
Dalam surat Al-an’am ayat 162 disebutkan

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Dari ayat di atas, terdapat kata صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي yang merupakan susunan idhofah (mudhof dan mudhof ilaih) dengan mudhofnya berupa isim mufrod.

Menurut kaidah di atas, maka maksud kata صَلَاتِي dalam ayat ini adalah umum, yakni mencakup semua sholat yang dikerjakan oleh seorang hamba, baik itu sholat yang bersifat wajib (fardhu), ataupun sholat yang bersifat sunnah.

Begitu pula kata نُسُكِي , susunan ini mengandung makna seluruh bentuk penyembelihan hewan, baik itu penyembelihan hewan ketika qurban atau penyembelihan lainnya.

Demikian halnya dengan kata مَحْيَايَ وَمَمَاتِي , mengandung makna yang mencakup seluruh bentuk kegiatan yang dilakukan manusia ketika hidupnya dan matinya.


Sehingga makna yang terkandung dari ayat ini adalah “katakanlah wahai Muhammad dan para pengikut Muhammad: sesungguhnya segala bentuk sholat yang aku kerjakan, segala bentuk penyembelihan yang aku lakukan dan segala bentuk kegiatan yang aku perbuat ketika aku hidup dan mati, maka semata-mata hanya untuk engkau ya Allah rob semesta alam”.


Sangat mendalam pemaknaan dari ayat ini, dan ini merupakan ikrar yang setiap muslim pasti mengucapkannya, maka ketika seseorang telah meleset saja dari hal ini, maka sungguh ia telah mengingkari janjinya dan sungguh ia telah melakukan perbuatan syirik kepada Allah.

Contoh yang lain adalah
Dalam surat Al-an’am ayat 90, setelah Allah menyebutkan para nabi, Allah berfirman :

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka”

Dalam ayat ini terdapat susunan idhofah فَبِهُدَاهُمُ , maka kata ini mencakup semua petunjuk yang diberikan oleh para nabi, yang harus kita contoh, baik dalam tauhid mereka kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, akhlaq yang mulia, amal yang sholeh dan seluruh petunjuk yang lurus.

Sehingga makna yang terkandung dalam ayat ini adalah Allah menyuruh Muhammad Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau agar mengikuti segala petunjuk yang diberikan oleh nabi-nabi terdahulu, mencakup segala hal yang merupakan perkara yang lurus. Dan mencakup dalam ayat ini, kita dituntut untuk mengambil petunjuk dari apa yang telah ditunjukkan Allah kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga segala hal yang ada pada diri Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita harus mengikutinya, baik dalam aqidah, ilmu, amal dan hal-hal yang disyariatkan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, kita dituntut dan diwajibkan untuk mengikutinya.

Contoh lain
Dalam surat Al-kahfi ayat 110, diantara syarat agar seorang hamba dapat berjumpa dengan Allah adalah dalam firman Allah :

وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadat kepada Allah”

Dalam ayat ini terdapat susunan kata بِعِبَادَةِ رَبِّهِ yakni susunan mufrod mudhof, sehingga maksud dari kata ini adalah mencakup segala bentuk peribadatan kepada Allah, baik itu ibadah yang bersifat dhohir (tampak) berupa lisan, anggota tubuh atau bersifat batin. Begitu pula segala bentuk peribadatan berupa keyakinan atau amal.


Sehingga makna ayat ini adalah “diantara syarat agar seorang hamba bisa berjumpa dengan tuhannya, adalah ia harus meninggalkan segala bentuk kesyirikan baik berupa peribadatan yang bersifat dhohir atau batin dan bersifat keyakinan atau amal”.


Contoh untuk jamak mudhof
Dalam surat An-nisa 23

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan.”

Susunan أُمَّهَاتُكُمْ dan susunan بَنَاتُكُمْ merupakan susunan jamak mudhof, yang dengan menerapkan kaidah di atas menunjukkan bahwa, maksud ayat di atas adalah “kita diharamkan (untuk menikahi) semua perempuan yang kita panggil ibu dalam artian ibu kandung kita, nenek kita, buyut perempuan kita dan seterusnya ke atas. Begitu pula kita diharamkan untuk menikahi anak-anak kita yang perempuan, baik anak perempuan kandung kita, atau cucu perempuan kita atau cicit perempuan kita dan seterusnya ke bawah”. Ini lah makna dari ayat di atas, berdasarkan kaidah yang telah disebutkan.

Dan contoh-contoh yang semisal dengan hal ini sangat banyak kita temukan dalam Al-qur'an.



Sumber rujukan
Kitab Al-qowaa’idul Hisan Muta’alliqotu bi Tafsiiril Qur’aani, karya Syaikh Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah As-sa’di

Comments (4)

Terima Kasih atas artikelnya.

terimakasih semoga bermanfaat

saya ingin sekali Anda lebih banyak memberikan contoh lainnya, agar menambah pengetahuan.

Terimaksih banyak, hal ini sangat membantu

Posting Komentar