Laman

Raih Kebahagiaan Dengan Iman Kepada Takdir

Posted on | By Ryper | In



Banyak manusia bersusah payah mencari kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya. Namun berbagai cara apapun yang mereka lakukan, tidak sedikitpun membawa mereka kepada hal tersebut. Harta yang melimpah, pasangan yang menarik dan anak yang banyak, tidak juga membuat mereka merasa nyaman dan bahagia. Kesehariannya justru penuh dengan kekhawatiran dan kegalauan.

Harta yang diperolehnya, yang dikira akan memberikan kebahagian, ternyata semakin membuatnya khawatir dan takut jika hartanya hilang.

Pasangan yang menarik dan anak yang banyak, yang dianggapnya dapat menghadirkan ketenangan, malah semakin menambah masalah lain yang tidak pernah dibayangkan.

Lantas, bagaimana cara meraih kebahagian?


Diantaranya adalah dengan beriman kepada takdir Allah Ta’ala, yakni keyakinan akan adanya ketetapan Allah yang telah ditentukan kepada setiap hamba.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu”. ( QS. At Taghabun [64] : 11)

Al A’masy berkata dari ‘Alqamah tentang ayat, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan tunjuki hatinya“, maksudnya adalah ketika seseorang terkena musibah, lantas ia mengetahui bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah, maka membuat hatinya ridha dan menerima takdir Allah tersebut.”
Seseorang yang hidup di dunia, pastinya akan mendapatkan berbagai ujian. Ketika ia yakin bahwa semua itu adalah datangnya dari Allah, untuk menguji keimanan kepada-Nya, maka ia akan ridha akan musibah tersebut, dan mengharapkan pahala akannya, sehingga membuat hatinya menjadi tenang dan hilang kekhawatiran dalam dirinya.

Makna Iman Kepada Takdir Allah

Iman kepada takdir Allah, mencakup iman kepada Qadha dan Qadar Allah. Qadar adalah ketetapan Allah sebelum menciptakan segala sesuatu, adapun Qadha adalah ketetapan Allah ketika terjadinya sesuatu.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfûzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allâh (QS. al-Hadiid [57] : 22)

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 11)

Oleh karenanya, segala sesuatu yang terjadi pada alam semesta dan seisinya, maka telah ditetapkan oleh Allah sebelum penciptaannya. Namun Allah memberi kebebasan bagi hambanya untuk memilih, sehingga baik buruknya keadaan seseorang, tergantung bagaimana cara ia merubahnya. Jadi, walaupun Allah mengetahui hasil akhir dari keadaan seseorang, hamba tersebut mempunyai kebebasan untuk menentukan, apakah ia termasuk penghuni surga ataukah neraka.

Dengan kata lain, seseorang termasuk penghuni surga atau neraka, sudah ditentukan oleh Allah sebelum menciptakan kita. Namun, manusia tidak mempunyai pengetahuannya akannya, sehingga usaha mereka-lah yang menentukan, apakah termasuk penghuni surga atau neraka.

Takdir Mutlak dan Takdir Ikhtiar

Para ulama membagi masalah takdir menjadi 2, Takdir Mutlak (Mubram) dan Takdir Ikhtiar (Muallaq). Takdir Mutlak adalah takdir yang telah ditetapkan Allah secara mutlak, sehingga manusia tidak bisa merubahnya. Semisal lahir dalam keadaan cacat, jenis kelamin, hukum alam dan lain-lainnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخُلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. رواه مسلم

“Allah telah mencatatkan takdir para mahluk-Nya, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.” (HR. Muslim). Yakni takdir mutlak

Seorang manusia yang ditakdirkan menjadi laki-laki dengan orang tua dari kulit hitam, dalam keadaan yatim dan cacat, maka itu adalah takdir mutlak yang Allah berikan padanya, sehingga ia tidak bisa memilih untuk menjadi perempuan yang tidak yatim dan normal.

Adapun takdir ikhtiar (muallaq) adalah takdir yang Allah tetapkan, namun bergantung kepada usaha manusia untuk terjadinya. Semisal pintar atau bodoh, sukses atau gagal, kaya atau miskin, dan lain-lainnya.
Sebagaimana firman Allah sebelumnya pada surat Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Karenanya, ketika seseorang ingin menjadi orang yang sukses, maka ia harus menempuh berbagai sebab yang dapat mewujudkan keinginannya. Sebagaimana orang yang sakit, maka ia akan mencari sebab dengan pergi ke dokter dan meminum obat agar ia bisa sembuh. Dan semua bentuk ibadah adalah takdir ikhtiar seorang hamba, baik berdoa, shalat, puasa dan lain-lainnya, yang jika hamba tersebut mengerjakannya, maka ia termasuk penghuni surga.

Contoh lainnya, ketika seseorang berdagang dengan sistem riba atau tidak, maka ini adalah takdir ikhtiar. Ia bisa memilih apakah dengan riba atau tidak, dan Allah telah tentukan bahwa riba adalah sarana menuju neraka. Sehingga, ketika ia memilih untuk memakai riba dan masuk ke dalam neraka, bukan berarti Allah lah yang memaksakan kehendak-Nya kepada hamba tersebut. Melainkan Allah telah memberikan batasan-batasan bagi hamba-hamba-Nya, yang jika ia melanggar batasan tersebut, maka termasuk diantara penghuni neraka.

Sebagaimana seseorang yang lahir dari orang tua yang non muslim, ini adalah takdir mutlak. Namun Allah telah mengabarkan islam kepadanya, apakah ia tetap dalam kekafirannya atau masuk ke dalam islam adalah takdir ikhtiar dari hamba tersebut.

Inilah keadilan dari Allah yang membuat para penduduk neraka tidak membantah atas apa yang ditakdirkan padanya, karena neraka itu adalah pilihannya yang dipilih ketika hidup di dunia. Bahkan mereka memohon agar dikembalikan kembali ke dunia, agar ia bisa memilih untuk taat dan patuh atas apa yang diperintahkan kepadanya. Allah berfirman

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

” Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal sholeh, sesungguhnya kami (sekarang) adalah orang-orang yang yakin.”   (QS. As-Sajdah [32] : 12)

رَبَّنَآ أَخِّرْنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ ٱلرُّسُلَ

” Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami kedunia) walaupun waktu yang sedikit niscaya kami akan mengetahui seruan Engkau dan (kami) akan mengikuti Rasul-RasulMu.”  (QS. Ibrahim [14] :44)

رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ

” Ya Tuhan kami keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal sholeh berlainan dengan apa yang telah kami kerjakan (dulu).. (QS. Fathir [35]:37)

قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ (١٠٦) رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ (١٠٧

(Artinya):” Mereka berkata: Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, oleh karena itu kami telah jadi orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari padanya (dan kembalikan kami kedunia.), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran) sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dhalim…(QS. Al-Mu`minun [23]:106-107)

Kasih Sayang Allah Kepada Hambanya Melebihi Kasih Sayang Ibu Kepada Anaknya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عن عمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه ـ قال : قدم على النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ سبى ، فإذا امرأة من السبي قد تحلب ثديها تسعى : إذا وجدت صبياً في السبي ـ أخذته فألصقته ببطنها ، وأرضعته ، فقال لنا النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ ” أترون هذه طارحة ولدها في النار ؟ قلنا : لا ،وهي تقدر على ألا تطرحه . فقال : لله أرحم بعباده من هذه بولدها ” . رواه البخاري ومسلم

“Dari Umar bin Al Khaththab RA berkata: Didatangkanlah para tawanan perang kepada Rasulullah SAW. Maka di antara tawanan itu terdapat seorang wanita yang susunya siap mengucur berjalan tergesa-gesa – sehingga ia menemukan seorang anak kecil dalam kelompok tawanan itu – ia segera menggendong, dan menyusuinya. Lalu Nabi Muhammad  SAW bersabda: Akankah kalian melihat ibu ini melemparkan anaknya ke dalam api? Kami menjawab: Tidak, dan ia mampu untuk tidak melemparkannya. Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-Nya, melebihi sayangnya ibu ini kepada anaknya” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari hadits ini, Allah adalah dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Allah tidak ingin hambanya masuk ke dalam neraka. Begitu banyak kemurahan Allah, nikmat yang diberikan, ampunan atas dosa yang diperbuat hamba, adalah bentuk kasih sayang Allah. Sehingga ketika seorang hamba masuk ke dalam neraka, maka sungguh mereka adalah orang-orang yang memang pantas untuk memasukinya. Dan itu adalah atas dasar keinginan hamba tersebut, bukan semata-mata karena Allah yang menentukan. Sehingga pada hadits 

إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

“Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits di atas tidak menunjukkan takdir mutlak, melainkan takdir ikhtiar seorang hamba. Dan maksud jarak antara dirinya dengan surga atau neraka adalah waktu ajalnya.

Walaupun seorang hamba selama hidupnya senantiasa beribadah dan melakukan kebaikan, namun pada akhir hayatnya ia mendapatkan syubhat pemikiran yang menjadikannya kufur, bahkan menolak islam, maka itu adalah pilihannya untuk masuk ke dalam neraka. Sebaliknya, ketika seseorang selama hayatnya melakukan perbuatan-perbuatan ahli neraka, baik maksiat, dzhalim kepada sesama dan lainnya, namun ketika akhir hayatnya ia bertaubat nashuha kepada Allah, maka ia termasuk ahli surga. Sebagaimana kisah orang musyrik yang pada waktu pagi harinya bersyahadat, kemudian di siang harinya ia mati syahid di medan perang, lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “dia meninggal dan masuk surga tanpa shalat sekalipun” (HR. Bukhari)

Hikmah Memahami Takdir Allah

Dari hal tersebut, banyak manfaat yang dapat diambil seorang hamba ketika mengimani takdir Allah Ta’ala dalam kehidupan, diantaranya

1.      1. Muncul keridhaan akan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala, dan yakin akan adanya pengganti yang lebih baik.

Dalam surat At Taghabun ayat 11 di atas, Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Barangsiapa yang tertimpa musibah, lalu ia sadar bahwa apa yang terjadi adalah atas ketentuan dan takdir Allah, kemudian ia bersabar dan mengharapkan pahala di sisi Allah, serta pasrah terhadap ketentuan Allah tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan hidayah kepada hatinya, dan Allah telah memberikan ganti dari apa yang telah hilang darinya, yaitu berupa barang duniawi, menggantinya dengan petunjuk yang ada dalam hatinya, dan juga keyakinan yang benar. Bahkan mungkin, ia juga akan mendapatkan ganti dengan sesuatu yang senilai dengan apa yang diambil darinya, atau bahkan dengan sesuatu yang lebih baik.”

Ibnu Abbas berkata, “Maksud dari ayat tersebut adalah Allah akan memberikan hidayah kepada hatinya agar menjadi yakin, sehingga ia pun menyadari bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya tidak akan meleset dari dirinya, sedangkan apa yang ditakdirkan tidak menimpa dirinya, tidak akan menimpanya.”

2.      2. Membuat hati menjadi kaya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
“… relalah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi manusia terkaya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Dalam hadits lainnya
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Banyak manusia yang berlomba-lomba mengumpulkan harta, namun tidak pernah puas dibuatnya. Hatinya merasa sempit ketika harta itu berkurang, dan merasa takut jika hartanya hilang. Ini bukanlah kekayaan yang sesungguhnya. Kekayaan yang hakiki adalah ketika ia rela atas apa yang diberikan atasnya, entah itu banyak atau sedikit, lantas ia bersyukur dan bersabar seraya mengharapkan pahala yang besar yang menantinya, yakni surga.

3.      Tidak berlebih-lebihan ketika mendapat nikmat dan tidak terlalu sedih ketika mendapat musibah.
Seorang hamba yang mengerti akan takdir, jiwanya akan tenang, baik ketika mendapatkan nikmat ataupun musibah. Ia tidak sombong atas nikmat yang didapatkannya, dan ia tidak terlalu bersedih hati atas apa yang menimpa dirinya. Karena ia tahu, nikmat dan musibah adalah dari Allah sebagai ujian atasnya.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢) لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (٢٣)

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid : 22-23)

Ibnu Katsir berkata, “Janganlah kalian berbangga diri terhadap orang lain dengan nikmat yang sudah diberikan kepada kalian, sebab semua itu pada dasarnya bukan merupakan jerih payah kalian, tetapi berkat takdir serta rezeki yang Allah limpahkan kepada kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian jadikan nikmat-nikmat dari Allah tersebut dengan rasa sombong dan arogan.” Ikrimah berkata, “Tidak ada seorangpun kecuali ia pasti mengalami kesedihan dan kesenangan, hanya saja jadikanlah kesenangan kalian berupa rasa syukur dan kesedihan kalian adalah kesabaran.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: IV/314)

4.      3. Menjadi seorang yang pemberani dan pantang menyerah

Ketika memahami takdir dengan benar, segala hal yang membuatnya takut, akan menjadi hilang. Seorang penakut menjadi pemberani. Seorang pedagang yang ragu dalam berbisnis akan semakin yakin dalam bisnisnya. Karena ia tahu, segala hal yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan segala hal yang tidak menimpanya, tidak akan mungkin menimpanya.

Dan ia pun akan menjadi seorang yang pantang menyerah, karena ia sadar, setiap kesulitan pasti ada 2 kemudahan dan kemudahan itu senantiasa mengiringi di dalam setiap kesulitannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“… ketahuilah bahwa seandainya seluruh ummat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali sedikitpun kecuali dengan manfaat yang sudah ditulis Allah untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberikan bahaya kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali dengan marabahaya yang sudah Allah tulis untukmu, pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” (HR. Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan shahih.”)

5.      Tidak pernah menyesali perbuatan dan yakin kebaikan itu ada pada sesuatu yang Allah pilihkan.
Barang hilang, kecelakan, keluarga meninggal, adalah diantara bentuk musibah yang besar, namun ketika seseorang yakin akan takdir Allah, maka ia tidak akan bersedih dan menyesali hal-hal tersebut. Karena ia tahu, barang hilang adalah takdir dari Allah, sebesar apapun usaha kita untuk mengamankannya, jika sudah waktunya hilang, maka akan hilang. Begitu pula dengan kematian anggota keluarga, baik cepat atau lambat mereka akan meninggalkannya, sehingga tidak perlu larut dalam kesedihan.

Karena ia yakin, apa yang Allah takdirkan bagi seorang hamba, adalah suatu kebaikan atasnya. Allah berfirman

“… boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Sebagaimana kisah-kisah yang sering kita dengar, telat masuk pesawat yang membuatnya rugi dalam finansial dan waktu, ternyata menghindarkan dirinya dari kematian. Kehilangan sesuatu yang berharga, ternyata ada ganti yang lebih baik. Orang yang cacat, dapat mencegahnya melakukan kemaksiatan yang banyak orang normal terjerumus karenanya, dll.

Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya ketika seseorang dapat memahami takdir Allah dengan benar.

Penutup

Dari uraian di atas, janganlah terlalu fokus mencari dunia hanya untuk kesenangan yang semu dan sementara, karena kehidupan dan kebahagian yang hakiki adalah nanti di surga. Raihlah kebahagian dunia dengan iman kepada takdir-Nya, bukan dengan meraih segala kenikmatan dunia, karena apa yang Allah pilihkan, adalah yang terbaik bagi hamba.

Jiwa yang tenang, bahagia, yakin serta pemberani adalah buah dari iman kepada takdir-Nya. Karena Allah adalah dzat yang Maha Penyayang yang tidak mungkin dzhalim kepada makhluk-Nya. Surga dan neraka adalah tempat yang dipersiapkan kepada hamba-hamba-Nya. Mereka yang memilih, apakah di surga ataukah neraka?

Semoga bermanfaat, Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Comments (0)

Poskan Komentar